Wednesday, December 1, 2010

SEMANTICS : STUDY OF MEANING AND REFERENCE

SEMANTICS AS PART OF GRAMMAR

Dalam mempelajari linguistic dan perpaduan prinsipnya maka belum lengkap tanpa menjabarkan tentang apa makna dari unit tersebut, bagaimana ia digunakan, dan apa yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi.
Pada bidang linguistic, semantics secara umum diartikan sebagai study dari arti atau makna dan anggapan yang terkait dalam bahasa, sedangkan secara logika atau nalar, semantic dianggap sebagai reference atau petunjuk linguistic dan kondisi sebenarnya dalam bahasa.
Deskripsi semantic dalam hakikat kebahasaan harus mencatat fakta dari suatu arti atau makna, linguistic reference, dan pada keadaan yang sebenarnya.
Semantik itu tidak selamanya berperan penting di Linguistik modern.Dari PD II di awal tahun 60an telah dilihat,terutama di Amerika Serikat,sebaagai sesuatu yang tidak terlalu dihormati.
Karena Semantik dianggap sesuatu yang aneh dan bukan bagian dari grammar.
Hingga Katz dan Fodor dan article mereka yang begitu berpengaruh,”The structure of a semantic theory”
Banyak anggapan bahwa semantic merupakan bagian dari grammar seperti syntax dan phonology. Sering dikataka bahwa grammar mendeskripsikan tentang sebagaimana kefasihan pembicara menguasai bahasanya atau linguistic competence. Berarti kita bisa beranggapan bahwa kefasihan apapun yang diketahui oleh pembicara merupakan bagian dari deskripsi bahasa itu sendiri. Deskripsi makna merupakan bagian yang teramat penting mengenai deskripsi dari pembicara mengenai pengetahuan linguistics. Grammar harus berisi tentang komponen yang dapat menjelaskan tentang apa yang diketahui oleh pembicara mengenai semantics.
Anggapan lebih umum juga mendorong kita untuk memasukkan semantics ke dalam grammar. Bahasa sering didefinisikan sebagai system konvensional dalam berkomunikasi, yaitu system untuk menyampaikan pesan. Selain itu, komunikasi akan tercapai jika hanya pesan yang disampaikan tersebut memiliki arti. Jadi untuk mengkarakterisasikan system tersebut, sangatlah penting untuk mengetahui artinya dan itu mengandung semantics.





6.2 WHAT ARE MEANING AND REFERENCE ?

MEANING




Di dalam bahasa inggris, kata “mean” bisa memiliki banyak arti dan penggunaan. Pada contoh 1 pada halaman 238, dari 10 contoh kalimat yang menggunakan kata mean dan means, tak satupun dari mereka yang sesuai dengan kata “mean” yang sedang kita diskusikan saat ini.
Lebih baik kita menggunakan istilah mean dan meaning,seperti pada contoh 2.
Penggunaan kata “mean” pada kedua contoh tersebut menunjukkan 2 tipe penting dari meaning itu sendiri, yaitu linguistic meaning dan speaker’s meaning.
Linguistik meaning merupakan arti sebenarnya dari apa yang diekspresikan. Sedangkan speaker’s meaning dapat berbeda dari linguistic meaning tergantung dari speaker itu sendiri, apakah ia berbicara secara harfiah atau arti yang sebenarnya (Literally) atau tidak ( nonliterally).
Literally maksudnya pembicara mengatakan sesuatu sesuai dengan arti sebenarnya, pada hal ini tidak ada perbedaan antara linguistic meaning dengan speaker’s meaning. Non literally sendiri mengenai apa yang kita maksudkan itu berbeda dengan apa yang kita ucapkan. Misalnya ketika kita menggunakan sindiran. Contohnya di hal 239,alinea 1.
Kembali ke pembicaraan awal yang membicarakan tentang makna sebuah Meaning kita harus tetap mengingat bahwa meaning dari sebuah kata bisa beragam melewati dialek dan di berbagai macam pembicara. Contoh : kata “Bonnet”, untuk American English kata tersebut berarti salah satu jenis topi. Sementara untuk British English “Bonnet” itu berarti kap penutup mesin mobil atau motor. Jadi Bonnet itu tidak bisa ditetapkan menjadi suatu arti tetap untuk semua jenis bahasa Inggris.
Masalah ini menjadi semakin rumit ketika kita menemukan arti tersebut antara pembicara yang memiliki dialek yang sama. Bahasa pada setiap individu tergantung dari gaya bahasa seseorang tersebut. Jadi arti atau makna dari gaya bahasa seseorang dapat berbeda antara satu dengan yang lain.
Lalu bagaimana dengan kamus bahasa Inggris ? Darimana mereka tahu arti sebuah kata ? atau benar atau tidaknya ? Mengingat banyaknya perbedaan di setiap arti sebuah kata. Kembali lagi kepada prescriptive rule dan descriptive rule tentang grammar di Chapter 1. Kamus – kamus yang ada biasanya diperoleh dari tradisi prescriptive rule dan selalu digunakan untuk bahasa tulis yang bersifat formal. Sehingga penggunaan kata-kata informal yang tidak dimasukkan dalam daftar dan dianggap tidak tepat atau tidak cocok. Sementara dari sudut pandang descriptive rule, berbahasa lisan dapat membentuk pusat sumber data dari teory linguistics dan para linguist lebih memperhatikan dalam menemukan makna dan hubungannya pada bahasa lisan yang digunakan sebenarnya oleh pembicara. Meskipun kamus dapat berguna dalam menyediakan suatu definisi kata tetapi ia tidak menggambarkan secara akurat arti dan variasi arti kata yang biasa digunakan pada bahasa sehari-hari.
Seorang pembicara itu haruslah bebas dalam menggunakan kata dan dapat melanggar aturan berbahasa yang ada pada prescriptive rule. Keberhasilan sebuah komunikasi itu bergantung pada kreativitas seseorang untuk menggunakan dan mengolah kata dalam berbagai cara.






WHAT IS MEANING
Beberapa konsep mengenai meaning dari semantics teori :
The Referential Theory of Meaning
Jika kita hanya focus pada ekspresi-ekspresi dalam suatu bahasa, misalnya de gaulle, chris evert, Italy atau frase kata benda seperti the present president of the United States, the first person to walk on our moon dsb. Seseorang biasanya menyimpulkannya berdasarkan sesuatu yang mereka maksud. Seperti konsep dari meaning yang berslogan :
“Arti dari setiap ekspresi adalah mengenai objek yang sesungguhnya yang dimaksudkan.”
Meskipun slogan tersebut menggambarkan fakta bahwa kita menggunakan bahasa untuk membicarakan dunia, namun masalahnya untuk mengidentifikasi meaning sebagai reference. Apabila kita percaya bahwa meaning dari suatu ekspresi adalah referentnya, maka kita akan menghadapi konsekuensi:
a. Jika suatu ekspresi memiliki meaning, maka pasti memiliki referent
b. Jika dua ekspresi memiliki referent yang sama maka keduanya memiliki meaning yang sama
c. jika referent dari suatu ekspresi benar maka meaningnya juga akan benar
Ketiga konsekuensi ini tentu bernilai salah, maka teori ini harus dimodifikasi. Pada poin (a) pada setiap ekspresi yang memiliki meaning berarti harus memiliki objek yang actual(nyata). Lalu bagaimana arti kata seperti Pegasus, The, Very djelaskan? Pada poin (b) jika dua ekspresi mengacu pada objek yang sama maka dia memiliki makna yang sama. Ini berarti bahwa keduanya bersinonim. Tetapi banyak ekspresi yang digunakan untuk mengacu pada satu objek yang tidak memiliki mean yang berbeda. Misalnya the morning star, the evening star, dan venus semuanya mengacu pada planet yang sama tetapi mereka tidak bersinonim. Pada poin (c) misalnya pada kalimat “Sir Edmund Hilary was the first European to climb Mt. Everest sehingga he was knigted by the Queen. Tapi apabila kita menyimpulkan makna dari Sir Edmund Hilary was the first European to climb Mt. Everest adalah he was knigted by the Queen ini terdengar tidak masuk akal. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa teori ini tidak dapat diterima atau harus dimodifikasi dengan cara yang lain.

Mentalist Theory of Meaning
Jika kita mengatakan bahwa sebuah arti kata bukan actual obyek, maka ia merupakan mental obyek.
Glucksberg dan Danks (1975,50) mengatakan bahwa ”Sebuah rangkaian makna dari kata merupakan serangkaian perasaan, gambaran, ide, konsep, pikiran, serta kesimpulan yang dibuat seseorang ketika ia mendengarkan atau memproses kata tersebut.”
“Arti dari setiap ekspresi E merupakan sebuah ide atau ide-ide, I(saya), diasosiasikan dengan E di pikiran pembicara”
Konsep ini tentu saja memiliki masalah, yaitu :
• Ide yang menjadi dasar teori ini sebenarnya masih tidak jelas apabila digunakan untuk mengartikan sesuatu yang spesifik. Teori ini juga tidak bisa diuji.
• Atau apabila ide tersebut cukup tepat untuk diujikan, teori ini bisa saja membuat prediksi yang salah.
• Teori ini juga mengatakan bahwa meaning juga merupakan gambaran pikiran seseorang. Ternyata gambaran pikiran dalam teori ini tidak cukup tajam atau masih terlalu abstrak untuk menggambarkan sesuatu apalagi sebuah kata kerja atau kata benda.
• Masalah lain dari teori ini adalah untuk membuat konsep dari hal-hal yang berkaitan dengan ide. Sebuah teori harus dapat mengidentifikasi dan membedakan konsep dari sebuah arti atau makna. Singkatnya teori ini memiliki banyak kesulitan. Kemungkinan masalahnya terletak pada awal asumsi tentang makna itu adalah sebuah kesatuan.
The Use Theory of Meaning
Teori ini dikemukakan oleh Wittgenstein pada 1930.
“Arti dari ekspresi E ditentukan dari penggunaannya di dalam bahsa komunitas atau bahasa masyarakat sehari-hari”
Problem yang dihadapi pada teori ini ialah konsep yang berkaitan dari penggunaan ( use ) haruslah tepat, dan bagaimana penggunaannya bisa digunakan untuk berkomunikasi.
Kesimpulannya,sangatlah bijak apabila kita mengatakan bahwa tidak ada teori yang sangat bagus untuk mendeskripsikan apa itu meaning dan semua teori yang telah disurvey tersebut merupakan pernyataan yag tidak menyatu. Tapi kedepannya masih ada banyak riset tentang hal ini.

REFERENCE
Kata refer sering digunakan untuk mengacu pada apa yang pembicara lakukan. Sedangkan istilah denote atau semantic reference digunakan untuk mengacu pada apa yang dilakukan oleh kata atau frase tersebut. Objek yang dijelaskan oleh pembicara (orang) disebut referent. Sedangkan objek yang dijelaskan secara semantic disebut denotation.
Reference itu terbagi atas dua, yaitu speaker’s reference dan linguistic reference.
Speaker’s reference mencakup apa yang pembicara tujukan ketika menyampaikan sesuatu, dan speaker’s reference bisa saja sama dengan apa yang pembicara indikasikan. Seperti contoh, sesuatu ditujukkan kepada George Washington dengan menggunakan The First President. Ini dapat terjadi walaupun sesuatu yang diindikasikan tidak sama dengan semantic reference. Yang perlu ditekankan bahwa denotations merupakan segala sesuatu dan kejadian yang ada di dunia ini. Dengan kata lain word or phrase denotes adalah segala sesuatu dan peristiwa yang dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Perhatikan contoh (4) HALAMAN 425.
Contoh a&b adalah singular expression. Sedangkan contoh C&D adalah General expression.
Perbedaan antara general expressions dengan singular expression yaitu :
- General expression yang terdiri dari nouns, verbs, adjective, dan frase dapat menjelaskan berbagai macam sesuatu atau peristiwa. Misalnya kata red dapat mengindikasikan kepada sesuatu yang berwarna merah.
- Singular expression yang terdiri dari proper name seperti Julius Caesar, frase seperti the dents on the fender, dan pronoun seperti she, he, dan they. Singular expression memiliki property yang digunakan pada kejadian tertentu, dan mengacu pada single thing atau collection of things.

WHAT IS REFERENCE?

Ada dua teori mengenai reference yaitu :
Description Theory
Konsep yang ada pada teori ini yaitu suatu ekspresi mengacu tentang apa yang diacukan karena ia menjelaskan tentang acuan tersebut. Misalnya pada contoh frase the first person to walk on our moon yang mengacu kepada Neil Amstrong atas berdasarkan fakta yang pantas untuk menjelaskannya. Lalu bagaimana dengan pronoun dan proper name? Teori ini mengatasinya dengan mengatakan bahwa orang-orang menggunakan eksperesi yang ada dalam pikirannya untuk mengacu pada objek yang ia maksudkan. Jadi teori ini berdasarkan dari speaker’s reference, bukan dari linguistic reference.
The Historical Chain Theory
Konsep dari teori ini bahwa suatu ekspresi mengacu pada apa yang diacukannya berdasarkan atas suatu hubungan historis antara kata yang diucapkan dan memberi gelar pada objek dengan nama tersebut. Ini menunjukkan bahwa penggunaannya diteruskan dari satu pembicara ke pembicara lain dari generasi ke generasi.
Kedua teoti tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya. The Description Theory banyak digunakan untuk menjelaskan kata yang termasuk dalam Noun dan Adjective. Sedangkan The Historical Chain Theory lebih banyak digunakan pada proper names, dan dapat digunakan dalam ekspresi seperti she, he, that, dll.

6.3 AIMS AND CLAIMS OF SEMANTIC THEORY
WORD AND PHRASES
MEANING PROPERTIES
Properties yang paling penting dari semantic properties ialah apakah suatu kata itu bersifat meaningful atau meaningless. Kosakata harus menetapkan dan bisa mewakili suatu arti ke dalam berbagai cara. Contohnya pada kata “bachelor” berarti “unmarried adult male”, dan kata “mother” berarti “female parent”. Dalam mempelajari bahasa kita sendiri, kita tentunya mengetahui dan membedakan apakah kata tersebut bersifat meaningful atau meaningless. Contoh di hal 247, kata-kata tersebut bersifat meaningful sementara contoh kedua dimana anak kecil berbicara dengan bahsanya sendiri, “wawa” sebagai bentuk ekspresinya menyebut water. Hal itu bersifat meaningless. Walaupun kata tersebut sangat berguna untuk berkomunikasi antara anak tersebut dan orang tuanya.
Semantic property lainnya yaitu ambiguity atau biasa diartikan sebagai lexical ambiguity. Contohnya ada pada halaman 247 nomor (5). Kemampuan untuk menentukan ambiguity tidak mudah pada saat berkomunikasi. Keberhasilan dalam berkomunikasi sangat bergantung pada pemahaman antara pendengar dan pembicara dalam mengenali adanya kemungkinan kata yang ambigu.
Properties lainnya ialah anomaly. dikatakan anomalous apabila terdapat ketidakcocokan meaning dari kata tersebut. Lihat contoh (6) pada hal 248. Selalu memungkinkan untuk menentukan arti dari sebuah ekspression. Terlebih ketika melihat beberapa bentuk puisi, kita diminta untuk menentukan arti kata yang terkandung dalam anomalous expression tersebut. Pada contoh (6) tidak memiliki terjemahan dalam bahasa inggris. Yang perlu diingat bahwa anomalous expression secara sintax memiliki bentuk yang benar sehingga akan memudahkan kita untuk menemukan makna dari ekspresi tersebut.


MEANING RELATIONS
Sebuah kata ataupun kata-kata itu tidak hanya memilki sebuah properties atau sifat tetapi juga memilki hubungan satu sama lain, meaning relations . Seperti halnya berhubungan secara morphologi dan semantic. Kata itu juga dihubungkan oleh sifat atau arti kata tersebut didalam lexicon.
1. Sinonim merupakan hubungan dari sebuah kata yang memilki arti yang sama.Tulisannya berbeda tetapi meliki arti yang sama.
2. Homophonus merupakan hubungan yang ada diantara 2 kata yang memilki pengucapan yang sama tetapi dengan arti yang berbeda. Contohnya kata bank ,bank yang merujuk kepada sisi sebuah sungai melawan kata bank yang merajuk kepada institusi keuangan.
3. Meaning inclusion. Ada pada contoh 7 dan 8 hal 249 merupakan contoh dari meaning inclusion. Ketika kita menggabungkan kata tersebut maka akan menghasilkan kata yang berlebihan atau pemborosan kata. Hubungan ini menunjukkan walaupun 2 kata itu tidak bersinonim dan arti masing-masing mereka tidak sesuai, tetapi arti mereka saling melengakpi dan memiliki kesamaan aspek semantic.
4. Antonymous merupakan lawan arti dari sebuah kata. Contoh 9 hal 249. Tetapi tidak semua hal yang berlawanan merupakan lawan arti kata. Seperti cat dan dog, kedua hal ini selalu bertentangan tetapi bukan berarti dia berantonim.
5. Semantic field. Walaupun selompok kata tidak bersinonim tetapi ia dapat menjelaskan tentang kejadian yang sama sehingga dapat disebut sebagai semantic fileds. Contohnya : color terms ( red,green,blue,yellow), kinship terms (mother,father,sister,brother). Istilah semantic field juga dapat diperluas dengan mengaitkan kata tersebut dengan kata yang memiliki kedekatan arti misalnya pada “plant names”, “animal names”, dsb.

Setelah kita melihat semua properties dan hubungan semantic dari arti kata, kita bisa ingat bahwa lexicon itu bukan sekedar deretan atau daftar kata-kata, tetapi melaui properties dan relations tadi kita bisa mengetahui bahwa setiap kata bisa saja meiliki kesamaan, lawan arti, serta jaringan.
Lexicon juga merupakan struktur internal yang kompleks.



SENTENCES


Karena kalimat itu tersusun dari kata-kata dan phrase, kita mengharapkan dengan serangkaian semantics properties dan relations dari sebuah kata maupun phrase juga mampu membawa kedalam kalimat tersebut. Jika sebuah kalimat diartikan sebagai sebuah hasil pemikiran yang komplit,maka hal ini tidak berguna,tetapi kalimat ternyta memiliki fungsi yang unik.Sehingga kita bisa mengharapkan untuk menemukan property semantic atau hubungan nya yang unik di dalam sebuah kalimat.

MEANING PROPERTIES AND RELATIONS

Sebelumnya telah dibahas mengenai 2 bentuk meaning properties dan relation kata mengenai ambiguity dan synonymy. Sekarang, kita akan membahas tentang property of sentence yaitu communicative potential.
a. Declarative sentencemerupakan kalimat pernyataan.
b. Imperative sentencemerupakan kalimat perintah
c. Interrogative sentencemerupakan kalimat pertanyaan.
Bidang semantic, secara tradisional umumnya berkosentrasi pada kalimat pernyataan yang dimana tersebut diianggap benar.

TRUTH PROPERTIES

Tidak hanya ekspresi memiliki arti properties dan relations, tetapi ekspresi itu juga bisa digunakan untuk menytakan sesuatu itu benar atau salah. Tentu saja tidak ada teori semantic yang bisa menentukan kalimat mana yang kita gunakan untuk mengatakan yang benar atau yang salah. Benar atau tidaknya sebuah kalimat itu tergantung dari kepada siapa kalimat itu merujuk dan keambiguitasan kalimat tersebut. Misalnya pada contoh :

I took your picure bisa berarti :
a. I removed your painting last night.
b. I photograph you last night.

Apakah ini berarti bahwa sematic sebagai hakikat kebahasaan tidak berhubungan dengan kepalsuan dan kebenaran? Jawabannya adalah tidak, karena truth properties dan truth relations bagaimanapun juga memiliki reference dan memiliki arti yang pasti.

Truth properties dibagi menjadi dua :
a. Linguistically true (analitycally true) or linguistically false (contradictory)
Suatu kalimat dikatakan linguistically true jika kebenarannya ditentukan semata-mata oleh semantics dan tidak perlu diuji lagi faktanya.
b. Empirically true or empirically false
Suatu kalimat dikatakan empirically true or false jika kebenarannya tidak ditentukan oleh semantics sehingga kebenarannya perlu diuji.
Semantics tidak membahas mengenai empirically true atau falsehood tetapi lebih membahas mengenai linguistically true or false.

TRUTH RELATIONS

Di dalam semantic, juga ada truth relations seperti halnya truth properties.Truth relations yang paling penting yaitu entailment. Sebuah kalimat dikatakan entail (berkaitan) kepada kata yang lain jika kebenaran pada kalimat yang pertama juga menjamin kebenaran pada kalimat yang kedua begitupun juga kesalahan pada kalimat yang pertama juga menjamin kesalahan pada kalimat yang kedua. Contoh 16 pada 254.
Masih berkaitan dengan entailment terdapat truth relation yang lain yaitu semantic presupposition. Semantic presupposition adalah hubungan antara dua kalimat yang memiliki kesamaan.




LOGICAL FORM AND ANALYTIC SENTENCE (TECHNICAL SECTION)


Ada beberapa perbedaan-perbedaan penting pada contoh 13,14 dan 15.Pada contoh 13,nilai kebenaran T or F semata-mata ditentukan oleh kata sambung or,and,if…then,dan kata not ( yang terkadang menyingkat it is not the case that.Sejak kata–kata tersebut dinamakan logical words,kalimat tersebut juga di sebut sebagai

pendekatan cbsa

Oktober 27, 2008 — Wahidin
I. STRATEGI DAN METODE
1. PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)

Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.

Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut:

Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
1. Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
2. Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
3. Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
4. Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.

KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR

Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan:
1. Expository dan Discovery/Inquiry :
“Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran.

Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik – discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar.

Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturut-turut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:

Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan : Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya.

Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia merigemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut.

Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dan sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah.

Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik.

Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengkombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
1. Discovery dan Inquiry :
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai”

Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya.

Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan
2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)
3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan.
6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan.
8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya.
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi:
1. Menemukan masalah
2. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
4. Perumusan keterangan yang diperoleh
5. Analisis proses inquiry.
1. Pendekatan konsep :
Terlebih dahulu harus kita ingat bahwa istilah “concept” (konsep) mempunyai beberapa arti. Namun dalam hal ini kita khususkan pada pembahasan yang berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar. Suatu saat seseorang dapat belajar mengenal kesimpulan benda-benda dengan jalan membedakannya satu sama lain. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah memasukkan suatu benda ke dalam suatu kelompok tertentu dan mengemukakan beberapa contoh dan kelompok itu yang dinyatakan sebagai jenis kelompok tersebut. Jalan yang kedua inilah yang memungkinkan seseorang mengenal suatu benda atau peristiwa sebagai suatu anggota kelompok tertentu, akibat dan suatu hasil belajar yang dinamakan “konsep”.

Kita harus memperhatikan pengertian yang paling mendasar dari istilah “konsep”, yang ditunjukkan melalui tingkah laku individu dalam mengemukakan sifat-sifat suatu obyek seperti : bundar, merah, halus, rangkap, atau obyek-obyek yang kita kenal seperti rambut, kucing, pohon dan rumah. Semuanya itu menunjukkan pada suatu konsep yang nyata (concrete concept). Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi/batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak. Misalnya iklim, massa, bahasa atau konsep matematis. Bila seseorang telah mengenal suatu konsep, maka konsep yang telah diperoleh tersebut dapat digunakan untuk mengorganisasikan gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan. Proses menghubung-hubungkan dan mengorganisasikan konsep yang satu dengan yang lain dilakukan melalui kemampuan kognitif
1. Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered).

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.

Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
o Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
o Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
o Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.

Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu.

Prinsip-prinsip CBSA:

Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

a. Dimensi subjek didik :
o Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
o Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
o Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
o Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.
b. Dimensi Guru
o Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
o Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
o Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
o Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.
o Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.
c. Dimensi Program
o Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
o Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
o Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
d. Dimensi situasi belajar-mengajar
o Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
o Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.
Rambu-rambu CBSA :

Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.
a. Berdasarkan pengelompokan siswa :
Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.
b. Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :
Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.
c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan :
Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :
Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.
e. Berdasarkan domein-domein tujuan :
Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.
Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai.
Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut :
a. Rumpun model interaksi sosial
b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik
c. Rumpun model modifikasi tingkah laku.
T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:
1. Pengaturan guru-siswa :
o Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim
o Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.
o Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil
(antara 5 – 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).
2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :
Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung. Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.
3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :
Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru. Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan (discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.
4. Proses pengolahan pesan :
Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.
Pemilihan strategi belajar-mengajar
Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut : “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif.

Langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut; Pertama menentukan tujuan dalam arti merumuskan tujuan dengan jelas sehingga dapat diketahui apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa, dalam kondisi yang bagaimana serta seberapa tingkat keberhasilan yang diharapkan. Pertanyaan inipun tidak mudah dijawab, sebab selain setiap siswa berbeda, juga tiap guru pun mempunyai kemampuan dan kwalifikasi yang berbeda pula. Disamping itu tujuan yang bersifat afektif seperti sikap dan perasaan, lebih sukar untuk diuraikan (dijabarkan) dan diukur. Tujuan yang bersifat kognitif biasanya lebih mudah. Strategi yang dipilih guru untuk aspek ini didasarkan pada perhitungan bahwa strategi tersebut akan dapat membentuk sebagaimana besar siswa untuk mencapai hasil yang optimal.

Namun guru tidak boleh berhenti sampai disitu, dengan kemajuan teknologi, guru dapat mengatasi perbedaan kemampuan siswa melalui berbagai jenis media instruksional. Misalnya, sekelompok siswa belajar melalui modul atau kaset audio, sementara guru membimbing kelompok lain yang dianggap masih lemah.

Kriteria Pemilihan Strategi Belajar-mengajar, menurut Gerlach dan Ely adalah:
1. Efisiensi :
Seorang guru biologi akan mengajar insekta (serangga). Tujuan pengajarannya berbunyi : Diberikan lima belas jenis gambar binatang, yang belum diberi nama, siswa dapat menunjukkan delapan jenis binatang yang termasuk jenis serangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi yang paling efisien ialah menunjukkan gambar jenis-jenis serangga itu dan diberi nama, kemudian siswa diminta memperhatikan ciri-cirinya. Selanjutnya para siswa diminta mempelajari di rumah untuk dihafal cirinya, sehingga waktu diadakan tes mereka dapat menjawab dengan betul. Dengan kata lain mereka dianggap telah mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Strategi ekspository tersebut memang merupakan strategi yang efisien untuk pencapaian tujuan yang bersifat hafalan. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan strategi inquiry mungkin oleh suatu konsep, bukan hanya sekedar menghafal.
Strategi ini lebih tepat. Guru dapat menunjukkan berbagai jenis binatang, dengan sketsa atau slide kemudian siswa diminta membedakan manakah yang termasuk serangga; ciri-cirinya, bentuk dan susunan tubuhnya, dan sebagainya. Guru menjawab pertanyaan siswa dengan jawaban pelajari lebih jauh. Mereka dapat mencari data tersebut dari buku-buku di perpustakaan atau melihat kembali gambar (sketsa) yang ditunjukkan guru kemudian mencocokkannya. Dengan menunjuk beberapa gambar, guru memberi pertanyaan tentang beberapa spesies tertentu yang akhirnya siswa dapat membedakan mana yang termasuk serangga dan mana yang bukan serangga. Kegiatan ini sampai pada perolehan konsep tentang serangga.
Metode terakhir ini memang membawa siswa pada suatu pengertian yang sama dengan yang dicapai melalui ekspository, tetapi pencapaiannya jauh lebih lama. Namun inquiry membawa siswa untuk mempelajari konsep atau pnnsip yang berguna untuk mengembangkan kemampuan menyelidiki.
2. Efektifitas :
Strategi yang paling efisien tidak selalu merupakan strategi yang efektif. Jadi efisiensi akan merupakan pemborosan bila tujuan akhir tidak tercapai. Bila tujuan tercapai, masih harus dipertanyakan seberapa jauh efektifitasnya. Suatu cara untuk mengukur efektifitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Kalau tujuan dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat dengan suatu strategi tertentu dari pada strategi yang lain, maka strategi itu efisien. Kalau kemampuan mentransfer informasi atau skill yang dipelajari lebih besar dicapai melalui suatu strategi tertentu dibandingkan strategi yang lain, maka strategi tersebut lebih efektif untuk pencapaian tujuan.
3. Kriteria lain :
Pertimbangan lain yang cukup penting dalam penentuan strategi maupun metode adalah tingkat keterlibatan siswa. (Ely. P. 186). Strategi inquiry biasanya memberikan tantangan yang lebih intensif dalam hal keterlibatan siswa. Sedangkan pada strategi ekspository siswa cenderung lebih pasif. Biasanya guru tidak secara murni menggunakan ekspository maupun discovery, melainkan campuran. Guru yang kreatif akan melihat tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dimiliki siswa, kemudian memilih strategi yang lain efektif dan efisien untuk mencapainya.
Ditulis dalam Makalah Belajar Dan Pembelajaran, Makalah Evaluasi Pembelajaran, Makalah Kurikulum Dan Pembelajaran, Makalah Media

KHABBAB IBN ARATS

Panasnya api tak membuat luluh keimanannya. Justru ia kian merasa bahagia atas luka-lukanya membela Nabi Allah. Direlakannya lehernya sebagai jaminan kebenaran dan kemuliaan risalah yang dibawa Rasulullah SAW.

Dialah Khabbab bin Arats, seorang pandai besi yang meskipun tadinya ia seorang budak, ia bisa bergaul dengan semua kalangan. Pemuka-pemuka Quraisy pun seringkali memesan pedang kepadanya.

Suatu hari, datang ke rumahnya beberapa orang Quraisy mengambil pesanan senjata. Kebetulan Khabbab sedang tidak ada. Setelah ditunggui beberapa lama, akhirnya Khabbab datang. Dengan penuh suka cita, ia langsung saja bercerita bahwa ia baru saja pulang dari rumah Arqam, di sana ia bertemu dengan Rasulullah. Dengan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya, diceritakannya perilaku Rasulullah yang begitu menarik hingga membuatnya terkagum-kagum dan mendorongnya untuk masuk Islam. Khabbab pun sempat mengucapkan syahadat di hadapan teman-teman Quraisy-nya itu.

Kegembiraannya ini menjadikannya lupa sedang berada dimana dirinya. Ia tidak sadar dengan apa yang terjadi dengannya. Tahu-tahu ia telah terkapar pingsan. Begitu terbangun, didapatinya sekujur tubuhnya telah bersimbah darah karena luka. Sambil menahan nyeri ia bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan dihadapinya setelah itu

Sya`bi, salah satu kawan sependeritaan Khabbab, menggambarkan kegilaan orang-orang Quraisy yang menyiksa Khabbab. Orang-orang kafir itu datang kepada Khabbab dan menyeretnya keluar kemudian menindihnya dengan batu yang membara, hingga meluluhkan dagingnya. Namun hati Khabbab tak sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan kebenaran risalah yang diikutinya.

Sahabatnya yang lain menceritakan bahwa orang-orang kafir itu datang ke rumah Khabbab. Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian setelah membara mereka gunakan untuk tiang mengikat tangan, kaki, berikut tubuh Khabbab.

Rasulullah pernah menyaksikan kekejaman orang kafir terhadap Khabbab, namun pada saat itu tidak ada yang bisa diperbuat mengingat umat Islam masih sangat minoritas. Rasulullah SAW hanya bisa berdoa agar Allah memberikan pertolongan-Nya sambil meminta yang bersangkutan bersabar. Harapan Rasulullah terbukti. Ummi Ammar yang seperti kesetanan menyiksa Khabbab, tak lama kemudian terkena penyakit panas yang aneh. Penyakit itu bisa berkurang kalau setiap pagi dan petang punggung dan kepalanya disetrika dengan besi yang membara.

Khabbab termasuk salah satu generasi pertama sahabat Rasul. Selain ahli ibadah, ia juga seorang guru ngaji yang Rasulullah sendiri pernah mengatakan, “Barang siapa ingin membaca Al-Quran, hendaklah ia meniru bacaan Khabbab Ibnu Ummi Abdin”. Khabbab mendapatkan kelebihannya itu untuk mengajar orang-orang yang masuk Islam. Khabbab jugalah yang mengajar Fatimah binti Khattab (saudara perempuan Umar bin Khattab) dan suaminya membaca Al Qur`an.

Sampai akhir hayat Rasulullah, Khabbab tidak pernah ketinggalan untuk pergi berperang. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dimana saat itu keadaan baitul maal sudah membaik, Khabbab mendapatkan gaji yang cukup besar. Walaupun begitu ia tidak pernah lupa untuk bersedekah. sampai-sampai ia membuat tempat untuk menyimpan uang tepat di ruang tamu dan tidak pernah ia tutup dengan selembar benang pun, karena memang disediakannya untuk para tamu yang membutuhkannya.

Ada kebiasaan aneh yang tetap tak bisa dihindarinya dalam kondisi banyak harta seperti itu. Ia begitu sering menangis. Masih kurangkah gajinya? “Sesungguhnya saya tidak merasa kekurangan. Justru kelebihan itulah yang mengingatkan saya kepada para sahabat yang telah meninggalkan kita dengan membawa semua amalnya, sebelum mendapatkan ganjaran di dunia. Sedangkan kita masih hidup dan mendapat kekayaan yang melimpah hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali di tanah”

Subhanallaah… Kalau iman yang berkata, seolah dunia ini tidak ada apa-apanya, yang ada hanya Allah dan Rasul-Nya.

Friday, November 26, 2010

kata kata motivasi

“Sekali lagi…Amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan..keputusasaan! Terlebih surut ke belakang. Ini adalah awal pembuktian..Siapa diantara kita yang beriman. Wahai diri sambutlah seruanNya…Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan…Bukan menghindar dari peperangan.(K.H. Rahmat Abdullah).”



“Para Pahlawan harus berhasil membangun ‘bunker’ dalam jiwa mereka. Tempat kunci-kunci daya hidup mereka tersembunyi dengan aman. Itulah yang membuat mereka selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang di bawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis di depan tantangan dan gembira dalam segala situasi (Anis Matta)."


‘Abdulah bin Rawahah ra, “Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena Dien ini. Dien yang ALLAH memulia-kan kita dengannya”


“Aku, surga dan tamanku ada di dalam dada-ku, ke mana-pun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkan-ku. Jika aku dipenjara, bagi-ku itu adalah khalwah. Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syahadah. Dan jika aku diusir dari negriku, bagi-ku itu adalah siyahah, jalan-jalan” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)


Ketahuilah wahai saudaraku, sungguh anda akan menemui masa-masa yang sulit, masa-masa yang melelahkan dan berbagai ujian. Padahal anda tengah berjalan di atas jalan kebenaran dan disibukkan dengan berbagai aktivitas dakwah. Apabila anda teguh di atas kebenaran dan sabar menghadapi berbagai ujian, niscaya kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang dan yang tersisa bagi anda adalah ganjaran dan pahala. InsyaALLAH.



Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini, selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Sungguh, kami berbuat di jalan Allah SWT untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat kami tak akan pernah menjadi musuh kalian. [Hasan Al-Banna]

figurative language

What is Figurative Language?

Whenever you describe something by comparing it with something else,
you are using figurative language.


Simile

A simile uses the words “like” or “as”
to compare one object or idea with another to suggest they are alike.
Example: busy as a bee


Metaphor

The metaphor states a fact or draws a verbal picture by the use of comparison.
A simile would say you are like something; a metaphor is more positive - it says you are something.
Example: You are what you eat.


Personification

A figure of speech in which human characteristics are given
to an animal or an object. Example: My teddy bear gave me a hug.


Alliteration

The repetition of the same initial letter, sound, or group of sounds in a series of words.
Alliteration includes tongue twisters. Example: She sells seashells by the seashore.


Onomatopoeia

The use of a word to describe or imitate a natural sound or the sound
made by an object or an action. Example: snap crackle pop


Hyperbole

An exaggeration that is so dramatic that no one would believe the statement is true.
Tall tales are hyperboles.
Example: He was so hungry, he ate that whole cornfield for lunch, stalks and all.


Idioms

According to Webster's Dictionary, an idiom is defined as: peculiar to itself
either grammatically (as no, it wasn't me) or in having a meaning
that cannot be derived from the conjoined meanings of its elements
(as Monday week for "the Monday a week after next Monday")


Clichés

A cliché is an expression that has been used so often that it has become trite
and sometimes boring. Example: Many hands make light work.


Free Presentations in PowerPoint format,
Free Interactives, Free Lesson Plans

More Free Presentations in PowerPoint format

Free Clip Art

Thursday, November 25, 2010

pesona wanita itu

DUHAI PESONA WANITA ITU, HINGGA ROSULULLOH PUN BERSIMPUH...
Posted by Khaleeda on Oct 4, '09 11:24 PM for everyone



Ketika kaum feminis dan pejuang-pejuang misi gender dengan lantang mengatakan bahwa Islam yg di bawa Muhammad Rosululloh adalah sebuah ajaran yg menghinakan posisi wanita, mengubur peran wanita, maka kisah di bawah ini setidaknya memberi jawaban bagaimana sebetulnya kondisi dan peran wanita-wanita Islam di zaman Rosululloh SAW.

Ketika terjadi Perang Uhud, Rasullulah melihat seorang wanita tengah bertempur dengan gagah berani. Pada saat yang tepat, Rasullulah memanggil wanita prajurit itu: "Zuraidah, Bukankah lebih baik engkau di rumah saja untuk merawat anak-anakmu?"
Mendapat pertanyan itu Zuraidah hanya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Ketika merasa Rasullulah tidak benar-benar memerlukan jawaban, Zuraidah mengundurkan diri dan kembali ke medan laga! Kini, giliran Rasullulah yang hanya dapat bergeleng-geleng kepala.

Pada ketika yang lain, Rasullulah memanggil Zuraidah kembali, "Zuraidah, suamimu mendapat cuti. Tidakkah engkau mengambil cuti dan pulang untuk melayani suami serta anak-anakmu?"

Kali ini Zuraidah tak dapat menolak saran Rasullulah. Bersama suaminya ia pulang. Cuti!

Dasar jiwa prajurit, ketika masa cuti habis, Zuraidah kembali bertempur. Lebih menggemaskan lagi, anak-anaknya pun di bawa ke medan perang dan di titipkan di dapur umum. Untuk kesekian kalinya Rasulullah hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.

Alkisah, Tuhan berkehendak lain. Sebatang anak panah meluncur tepat mengenai dada Zuraidah. Wanita gagah berani itu pun tumbang. Rasululah serta merta bersimpuh di depannya. Itu pemandangan yang langka. Tidak seperti itu kebiasaan Rasullulah menghormati prajurit Allah yang gugur.

Melihat keadaan demikian, Sang Panglima, Kalifah Umar, meminta seluruh prajurit menghormati Zuraidah seraya berorasi: "Dia adalah wanita gagah berani, Zuraidah adalah seorang parajurit wanita yang patut di teladani, hingga Rasullulah berkenan memberi hormat sacara khusus ...!"

Tapi, Rasulullah meyela, "Aku menghormati Zuraidah sebagai prajurit yang baik, tapi aku bersimpuh di hadapannya karena ia seorang ibu yang baik".

njiplak dari http://nashroellah.multiply.com/journal/item/52

biotekhnologi konvensional

ioteknologi adalah pemanfaatan prinsip-prinsip ilmiah yang
menggunakan makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa
guna kepentingan manusia. Ilmu-ilmu pendukung dalam bioteknologi
meliputi mikrobiologi, biokimia, genetika, biologi sel, teknik
kimia, dan enzimologi. Dalam bioteknologi biasanya digunakan
mikroorganisme atau bagian-bagiannya untuk meningkatkan nilai
tambah suatu bahan

B. BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL DAN MODERN
Bioteknologi dapat digolongkan menjadi bioteknologi konvensional/
tradisional dan modern. Bioteknologi konvensional merupakan
bioteknologi yang memanfaatkan mikroorganisme untuk
memproduksi alkohol, asam asetat, gula, atau bahan makanan,
seperti tempe, tape, oncom, dan kecap.
Mikroorganisme dapat mengubah bahan pangan. Proses
yang dibantu mikroorganisme, misalnya dengan fermentasi, hasilnya
antara lain tempe, tape, kecap, dan sebagainya termasuk keju
dan yoghurt. Proses tersebut dianggap sebagai bioteknologi masa
lalu. Ciri khas yang tampak pada bioteknologi konvensional, yaitu
adanya penggunaan makhluk hidup secara langsung dan belum tahu
adanya penggunaan enzim

1. Pengolahan Bahan Makanan
a. Pengolahan produk susu
Susu dapat diolah menjadi bentuk-bentuk baru, seperti
yoghurt, keju, dan mentega.
1) Yoghurt
Untuk membuat yoghurt, susu dipasteurisasi terlebih dahulu,
selanjutnya sebagian besar lemak dibuang. Mikroorganisme
yang berperan dalam pembuatan yoghurt, yaitu Lactobacillus
bulgaricusdan Streptococcus thermophillus. Kedua bakteri tersebut
ditambahkan pada susu dengan jumlah yang seimbang, selanjutnya
disimpan selama ± 5 jam pada temperatur 45oC. Selama penyimpanan
tersebut pH akan turun menjadi 4,0 sebagai akibat dari kegiatan
bakteri asam laktat. Selanjutnya susu didinginkan dan dapat
diberi cita rasa.

2) Keju
Dalam pembuatan keju digunakan bakteri asam laktat, yaitu
Lactobacillus dan Streptococcus. Bakteri tersebut berfungsi
memfermentasikan laktosa dalam susu menjadi asam laktat.
Proses pembuatan keju diawali dengan pemanasan susu
dengan suhu 90oC atau dipasteurisasi, kemudian didinginkan sampai
30oC. Selanjutnya bakteri asam laktat dicampurkan. Akibat dari
kegiatan bakteri tersebut pH menurun dan susu terpisah menjadi
cairan whey dan dadih padat, kemudian ditambahkan enzim renin
dari lambung sapi muda untuk mengumpulkan dadih. Enzim renin
dewasa ini telah digantikan dengan enzim buatan, yaitu klimosin.
Dadih yang terbentuk selanjutnya dipanaskan pada temperatur
32oC – 420oC dan ditambah garam, kemudian ditekan untuk
membuang air dan disimpan agar matang. Adapun whey yang
terbentuk diperas lalu digunakan untuk makanan sapi.

3) Mentega
Pembuatan mentega menggunakan mikroorganisme Streptococcus
lactis dan Lectonostoceremoris. Bakteri-bakteri tersebut
membentuk proses pengasaman. Selanjutnya, susu diberi cita rasa
tertentu dan lemak mentega dipisahkan. Kemudian lemak mentega
diaduk untuk menghasilkan mentega yang siap dimakan.

b. Produk makanan nonsusu
1) Kecap
Dalam pembuatan kecap, jamur, Aspergillus oryzae dibiakkan
pada kulit gandum terlebih dahulu. Jamur Aspergillus oryzae
bersama-sama dengan bakteri asam laktat yang tumbuh pada kedelai
yang telah dimasak menghancurkan campuran gandum.
Setelah proses fermentasi karbohidrat berlangsung cukup lama
akhirnya akan dihasilkan produk kecap.
2) Tempe
Tempe kadang-kadang dianggap sebagai bahan makanan
masyarakat golongan menengah ke bawah, sehingga masyarakat
merasa gengsi memasukkan tempe sebgai salah satu menu makanannya.
Akan tetapi, setelah diketahui manfaatnya bagi kesehatan,
tempe mulai banyak dicari dan digemari masyarakat dalam
maupun luar negeri. Jenis tempe sebenarnya sangat beragam, bergantung
pada bahan dasarnya, namun yang paling luas penyebarannya
adalah tempe kedelai.
Tempe mempunyai nilai gizi yang baik. Di samping itu tempe
mempunyai beberapa khasiat, seperti dapat mencegah dan mengendalikan
diare, mempercepat proses penyembuhan duodenitis, memperlancar
pencernaan, dapat menurunkan kadar kolesterol, dapat
mengurangi toksisitas, meningkatkan vitalitas, mencegah anemia,
menghambat ketuaan, serta mampu menghambat resiko jantung
koroner, penyakit gula, dan kanker.
Untuk membuat tempe, selain diperlukan bahan dasar kedelai
juga diperlukan ragi. Ragi merupakan kumpulan spora mikroorganisme,
dalam hal ini kapang. Dalam proses pembuatan tempe
paling sedikit diperlukan empat jenis kapang dari genus Rhizopus,
yaitu Rhyzopus oligosporus, Rhyzopus stolonifer, Rhyzopus
arrhizus, dan Rhyzopus oryzae. Miselium dari kapang tersebut akan
mengikat keping-keping biji kedelai dan memfermentasikannya
menjadi produk tempe. Proses fermentasi tersebut menyebabkan
terjadinya perubahan kimia pada protein, lemak, dan karbohidrat.
Perubahan tersebut meningkatkan kadar protein tempe sampai
sembilan kali lipat.
c) Tape
Tape dibuat dari bahan dasar ketela pohon dengan
menggunakan sel-sel ragi. Ragi menghasilkan enzim yang dapat
mengubah zat tepung menjadi produk yang berupa gula dan
alkohol. Masyarakat kita membuat tape tersebut berdasarkan
pengalaman.
2. Bioteknologi Bidang Pertanian
a. Penanaman secara hidroponik
Hidroponik berasal dari kata bahasa Yunani hydro yang berarti
air dan ponos yang berarti bekerja. Jadi, hidroponik artinya
pengerjaan air atau bekerja dengan air. Dalam praktiknya hidroponik
dilakukan dengan berbagai metode, tergantung media yang digunakan.
Adapun metode yang digunakan dalam hidroponik, antara
lain metode kultur air (menggunakan media air), metode kultur pasir
(menggunakan media pasir), dan metode porus (menggunakan
media kerikil, pecahan batu bata, dan lain-lain). Metode yang tergolong
berhasil dan mudah diterapkan adalah metode pasir.
Pada umumnya orang bertanam dengan menggunakan tanah.
Namun, dalam hidroponik tidak lagi digunakan tanah, hanya
dibutuhkan air yang ditambah nutrien sebagai sumber makanan bagi
tanaman. Apakah cukup dengan air dan nutrien? Bahan dasar yang
dibutuhkan tanaman adalah air, mineral, cahaya, dan CO2.
Cahayatelah terpenuhi oleh cahaya matahari. Demikian pula CO2 sudah
cukup melimpah di udara. Sementara itu kebutuhan air dan mineral
dapat diberikan dengan sistem hidroponik, artinya keberadaan tanah
sebenarnya bukanlah hal yang utama.
Beberapa keuntungan bercocok tanam dengan hidroponik,
antara lain tanaman dapat dibudidayakan di segala tempat; risiko
kerusakan tanaman karena banjir, kurang air, dan erosi tidak ada;
tidak perlu lahan yang terlalu luas; pertumbuhan tanaman lebih
cepat; bebas dari hama; hasilnya berkualitas dan berkuantitas tinggi;
hemat biaya perawatan.
Jenis tanaman yang telah banyak dihidroponikkan dari
golongan tanaman hias antara lain Philodendron, Dracaena, Aglonema,
dan Spatyphilum. Golongan sayuran yang dapat dihidroponikkan,
antara lain tomat, paprika, mentimun, selada, sawi, kangkung,
dan bayam. Adapun jenis tanaman buah yang dapat dihidroponikkan,
antara lain jambu air, melon, kedondong bangkok, dan
belimbing.
b. Penanaman secara aeroponik
Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan
ponos yang berarti daya. Jadi, aeroponik adalah pemberdayaan
udara. Sebenarnya aeroponik merupakan tipe hidroponik (memberdayakan
air), karena air yang berisi larutan unsur hara disemburkan
dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Akar
tanaman yang ditanam menggantung akan menyerap larutan hara
tersebut.
Prinsip dari aeroponik adalah sebagai berikut. Helaian
styrofoam diberi lubang-lubang tanam dengan jarak 15 cm. Dengan
menggunakan ganjal busa atau rockwool, anak semai sayuran
ditancapkan pada lubang tanam. Akar tanaman akan menjuntai
bebas ke bawah. Di bawah helaian styrofoam terdapat sprinkler
(pengabut) yang memancarkan kabut larutan hara ke atas hingga
mengenai akar.
3. Bioteknologi Modern
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli
telah mulai lagi mengembangkan bioteknologi dengan memanfaatkan
prinsip-prinsip ilmiah melalui penelitian. Dalam bioteknologi
modern orang berupaya dapat menghasilkan produk secara efektif
dan efisien.
Dewasa ini, bioteknologi tidak hanya dimanfaatkan dalam
industri makanan tetapi telah mencakup berbagai bidang, seperti
rekayasa genetika, penanganan polusi, penciptaan sumber energi,
dan sebagainya. Dengan adanya berbagai penelitian serta perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, maka bioteknologi makin
besar manfaatnya untuk masa-masa yang akan datang. Beberapa
penerapan bioteknologi modern sebagai berikut.
a. Rekayasa genetika
Rekayasa genetika merupakan suatu cara memanipulasikan
gen untuk menghasilkan makhluk hidup baru dengan sifat yang
diinginkan. Rekayasa genetika disebut juga pencangkokan gen atau
rekombinasi DNA.
Dalam rekayasa genetika digunakan DNA untuk menggabungkan
sifat makhluk hidup. Hal itu karena DNA dari setiap
makhluk hidup mempunyai struktur yang sama, sehingga dapat
direkomendasikan. Selanjutnya DNA tersebut akan mengatur sifatsifat
makhluk hidup secara turun-temurun.
Untuk mengubah DNA sel dapat dilakukan melalui banyak
cara, misalnya melalui transplantasi inti, fusi sel, teknologi plasmid,
dan rekombinasi DNA.

1) Transplantasi inti
Transplantasi inti adalah pemindahan inti dari suatu sel ke sel
yang lain agar didapatkan individu baru dengan sifat sesuai dengan
inti yang diterimanya. Transplantasi inti pernah dilakukan terhadap
sel katak. Inti sel yang dipindahkan adalah inti dari sel-sel usus katak
yang bersifat diploid. Inti sel tersebut dimasukkan ke dalam ovum
tanpa inti, sehingga terbentuk ovum dengan inti diploid. Setelah
diberi inti baru, ovum membelah secara mitosis berkali-kali
sehingga terbentuklah morula yang berkembang menjadi blastula.
Blastula tersebut selanjutnya dipotong-potong menjadi banyak sel
dan diambil intinya. Kemudian inti-inti tersebut dimasukkan ke
dalam ovum tanpa inti yang lain. Pada akhirnya terbentuk ovum
berinti diploid dalam jumlah banyak. Masing-masing ovum akan
berkembang menjadi individu baru dengan sifat dan jenis kelamin
yang sama.
2) Fusi sel
Fusi sel adalah peleburan dua sel baik dari spesies yang sama
maupun berbeda supaya terbentuk sel bastar atau hibridoma. Fusi
sel diawali oleh pelebaran membran dua sel serta diikuti oleh
peleburan sitoplasma (plasmogami) dan peleburan inti sel (kariogami).
Manfaat fusi sel, antara lain untuk pemetaan kromosom,
membuat antibodi monoklonal, dan membentuk spesies baru. Di
dalam fusi sel diperlukan adanya:
a) sel sumber gen (sumber sifat ideal);
b) sel wadah (sel yang mampu membelah cepat);
c) fusigen (zat-zat yang mempercepat fusi sel).
3) Teknologi plasmid
Plasmid adalah lingkaran DNA kecil yang terdapat di dalam
sel bakteri atau ragi di luar kromosomnya. Sifat-sifat plasmid, antara
lain:
a) merupakan molekul DNA yang mengandung gen tertentu;
b) dapat beraplikasi diri;
c) dapat berpindah ke sel bakteri lain;
d) sifat plasmid pada keturunan bakteri sama dengan plasmid induk.
Karena sifat-sifat tersebut di atas plasmid digunakan sebagai
vektor atau pemindah gen ke dalam sel target.
4) Rekombinasi DNA
Rekombinasi DNA adalah proses penggabungan DNA-DNA
dari sumber yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menyambungkan
gen yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, rekombinasi
DNA disebut juga rekombinasi gen.
Rekombinasi DNA dapat dilakukan karena alasan-alasan
sebagai berikut.
1) Struktur DNA setiap spesies makhluk hidup sama.
2) DNA dapat disambungkan
b. Bioteknologi bidang kedokteran
Bioteknologi mempunyai peran penting dalam bidang kedokteran,
misalnya dalam pembuatan antibodi monoklonal, vaksin,
antibiotika dan hormon.
1) Pembuatan antibodi monoklonal
Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diperoleh dari
suatu sumber tunggal. Manfaat antibodi monoklonal, antara lain:
a) untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin dalam
urine wanita hamil;
b) mengikat racun dan menonaktifkannya;
c) mencegah penolakan tubuh terhadap hasil transplantasi jaringan
lain.
2) Pembuatan vaksin
Vaksin digunakan untuk mencegah serangan penyakit terhadap
tubuh yang berasal dari mikroorganisme. Vaksin didapat dari
virus dan bakteri yang telah dilemahkan atau racun yang diambil
dari mikroorganisme tersebut.
3) Pembuatan antibiotika
Antibiotika adalah suatu zat yang dihasilkan oleh organisme
tertentu dan berfungsi untuk menghambat pertumbuhan organisme
lain yang ada di sekitarnya. Antibiotika dapat diperoleh dari jamur
atau bakteri yang diproses dengan cara tertentu.
Zat antibiotika telah mulai diproduksi secara besar-besaran
pada Perang Dunia II oleh para ahli dari Amerika Serikat dan
Inggris.
4) Pembuatan hormon
Dengan rekayasa DNA, dewasa ini telah digunakan mikroorganisme
untuk memproduksi hormon. Hormon-hormon yang
telah diproduksi, misalnya insulin, hormon pertumbuhan, kortison,
dan testosteron.

c. Bioteknologi bidang pertanian
Dewasa ini perkembangan industri maju dengan pesat.
Akibatnya, banyak lahan pertanian yang tergeser, lebih-lebih di
daerah sekitar perkotaan. Di sisi lain kebutuhan akan hasil pertanian
harus ditingkatkan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Untuk mendukung hal tersebut, dewasa ini telah dikembangkan
bioteknologi di bidang pertanian. Beberapa penerapan bioteknologi
pertanian sebagai berikut.
1) Pembuatan tumbuhan yang mampu mengikat nitrogen
Nitrogen (N2) merupakan unsur esensial dari protein DNA
dan RNA. Pada tumbuhan polong-polongan sering ditemukan nodul
pada akarnya. Di dalam nodul tersebut terdapat bakteri Rhizobium
yang dapat mengikat nitrogen bebas dari udara, sehingga tumbuhan
polong-polongan dapat mencukupi kebutuhan nitrogennya sendiri.
Dengan bioteknologi, para peneliti mencoba mengembangkan
agar bakteri Rhizobium dapat hidup di dalam akar selain tumbuhan
polong-polongan. Di samping, itu juga berupaya meningkatkan
kemampuan bakteri dalam mengikat nitrogen dengan teknik
rekombinasi gen.
Kedua upaya di atas dilakukan untuk mengurangi atau meniadakan
penggunaan pupuk nitrogen yang dewasa ini banyak
digunakan di lahan pertanian dan menimbulkan efek samping yang
merugikan.
2) Pembuatan tumbuhan tahan hama
Tanaman yang tahan hama dapat dibuat melalui rekayasa
genetika dengan rekombinasi gen dan kultur sel. Contohnya, untuk
mendapatkan tanaman kentang yang kebal penyakit maka diperlukan
gen yang menentukan sifat kebal penyakit. Gen tersebut, kemudian
disisipkan pada sel tanaman kentang. Sel tanaman kentang
tersebut, kemudian ditumbuhkan menjadi tanaman kentang yang
tahan penyakit. Selanjutnya tanaman kentang tersebut dapat diperbanyak
dan disebarluaskan.

d. Bioteknologi bidang peternakan
Dengan bioteknologi dapat dikembangkan produk-produk
peternakan. Produk tersebut, misalnya berupa hormon pertumbuhan
yang dapat merangsang pertumbuhan hewan ternak. Dengan
rekayasa genetika dapat diciptakan hormon pertumbuhan hewan
buatan atau BST (Bovin Somatotropin Hormon). Hormon tersebut
direkayasa dari bakteri yang, jika diinfeksikan pada hewan dapat
mendorong pertumbuhan dan menaikkan produksi susu sampai
20%.

e. Bioteknologi bahan bakar masa depan
Kamu sudah mengetahui bahwa bahan bakar minyak
termasuk sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Oleh karena itu,
suatu saat akan habis. Hal itu merupakan tantangan bagi para
ilmuwan untuk menemukan bahan bakar pengganti yang diproduksi
melalui bioteknologi.
Saat ini telah ditemukan dua jenis bahan bakar yang diproduksi
dari fermentasi limbah, yaitu gasbio (metana) dan gasahol
(alkohol).
Alternatif bahan bakar masa depan untuk menggantikan
minyak, antara lain adalah biogas dan gasohol. Biogas dibuat dalam
fase anaerob dalam fermentasi limbah kotoran makhluk hidup. Pada
fase anaerob akan dihasilkan gas metana yang dibakar dan digunakan
untuk bahan bakar.
Di negara Cina, dan India terdapat beberapa kelompok masyarakat
yang hidup di desa yang telah menerapkan teknologi
fermenter gasbio untuk menghasilkan metana. Bahan baku teknologi
fermenter tersebut adalah feses hewan, daun-daunan, kertas,
dan lain-lain yang akan diuraikan oleh bakteri dalam fermenter.
Sedangkan teknologi gasohol telah dikembangkan oleh
negara Brazil sejak harga minyak meningkat sekitar tahun 1970.
Gasohol dihasilkan dari fermentasi kapang terhadap gula tebu yang
melimpah. Gasohol bersifat murah, dapat diperbarui dan tidak
menimbulkan polusi.

f. Bioteknologi pengolahan limbah
Kaleng, kertas bekas, dan sisa makanan, sisa aktivitas
pertanian atau industri merupakan bahan yang biasanya sudah tak
dikehendaki oleh manusia. Bahan-bahan tersebut dinamakan limbah
atau sampah. Keberadaan limbah sangat mengancam lingkungan.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk menanganinya. Penanganan
sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan
ditimbun, dibakar, atau didaur ulang. Di antara semua cara tersebut
yang paling baik adalah dengan daur ulang.
Salah satu contoh proses daur ulang sampah yang telah diuji
pada beberapa sampah tumbuhan adalah proses pirolisis. Proses
pirolisis yaitu proses dekomposisi bahan-bahan sampah dengan
suhu tinggi pada kondisi tanpa oksigen. Dengan cara ini sampah
dapat diubah menjadi arang, gas (misal: metana) dan bahan
anorganik.
Bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai
bahan bakar. Kelebihan bahan bakar hasil proses ini adalah
rendahnya kandungan sulfur, sehingga cukup mengurangi tingkat
pencemaran. Bahan hasil perombakan zat-zat makroorganik (dari
hewan, tumbuhan, manusia ataupun gabungannya) secara biologiskimiawi
dengan bantuan mikroorganisme (misalnya bakteri, jamur)
serta oleh hewan-hewan kecil disebut kompos.
Dalam pembuatan kompos, sangat diperlukan mikroorganisme.
Jenis mikroorganisme yang diperlukan dalam pembuatan kompos
bergantung pada bahan organik yang digunakan serta proses
yang berlangsung (misalnya proses itu secara aerob atau anaerob).
Selama proses pengomposan terjadilah penguraian, misalnya
selulosa, pembentukan asam organik terutama asam humat yang
penting dalam pembuatan humus. Hasil pengomposan bermanfaat
sebagai pupuk.
Bioteknologi dapat diterapkan dalam pengolahan limbah,
misalnya menguraikan minyak, air limbah, dan plastik. Cara lain
dalam mengatasi polusi minyak, yaitu dengan menggunakan
pengemulsi yang menyebabkan minyak bercampur dengan air
sehingga dapat dipecah oleh mikroba. Salah satu zat pengemulsi,
yaitu polisakarida yang disebut emulsan, diproduksi oleh bakteri
Acinetobacter calcoaceticus. Dengan bioteknologi, pengolahan
limbah menjadi terkontrol dan efektif. Pengolahan limbah secara
bioteknologi melibatkan kerja bakteri-bakteri aerob dan anaerob.



http://winaraku.wordpress.com/tag/bioteknologi-konvensional-dan-modern